Ida Khamidah

Saya seorang guru SD Al-Fath Cirendeu, Kelurahan Pisangan, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan. ...

Selengkapnya

Liburan Mendadak ke Yogya (7)

#Tantanganmenulis60hari

#Tantangangurusianaharike-46

Liburan Mendadak ke Yogya (7)

26 Desember 2019

“Sreeet” suara resleting koper berhasil ditutup. Tumpukan pakaian dan perlengkapan di dalamnya membuat koper ini terlihat menggembung, berat ke depan. Lalu Koper ini kusandarkan di sisi tembok dekat pintu rumah.

Sebelum menutupnya, Aku sudah mengecek perlengkapan secara berulang. Insya Allah, tidak ada yang tertinggal. Semuanya siap untuk diangkut.

1 koper besar berisi pakaian kami berempat

1 tas punggung untuk membawa obat-obatan, alat sholat

1 tas punggung untuk membawa camilan dan mainan

1 tas kantung untuk bekal dalam perjalanan berangkat

Hari yang dinanti pun tiba. Pukul 07.00 WIB kami siap dengan segala perlengkapannya. Layar sentuh ponselku segera berlari ke sebuah aplikasi jasa transportasi. Destination Stasiun Pasar Senen.

15 menit berlalu, sebuah mobil berplat B menepi di samping pagar rumah. Seorang bapak paru baya keluar dari mobil itu. dengan sigap Dia mengangkat koper dan barang-barang bawaan kami masuk ke dalam bagasi mobil. Sementara itu, suamiku masih mengecek keadaan rumah, lalu menggemboknya. “ Bismillah. InSya Allah aman” Doanya lirih.

“Bleg”. Suara pintu mobil ditutup. Pak supir segera mengatur kendali agar sang raja (baca penumpang) merasa nyaman dan menikmati perjalanan. Doa pun tak lupa kami panjatkan agar keselamatan menyertai kami.

“Bismillaahi tawakkaltu ‘alallaaah laa haula walaa quwwata ilaa billaah. Bismillaahi majrehaa wa mursaahaa inna robbi laghofuururrohiim”.

Obrolan, celotehan anak-anak, bahkan kuapan kami mengiringi perjalanan pagi itu.

Satu jam lebih kami terbuai oleh semilir angin dari langit-langit mobil. Lelah semalam karena sibuk packing cukup terbayar hingga kesadaran kami kembali pulih. pak Supir telah membawa kami ke tempat tujuan, Stasiun Pasar Senen.

“Sayang, ayo siap-siap sebentar lagi kita turun!” pintaku kepada anak-anaku yang duduk di jok belakang bersamaku.

“ Iya, Ibu” sahut kakak dan ade bersemangat

“Oke, barang-barangnya sudah semua ya, Pak. tidak ada yang tertinggal” Pertanyaannya membuat kami menyelidik.

“ Iya Pak, sudah semua. Terima kasih ya, Pak” jawab kami.

Barang bawakan yang menggunung tak menyurutkan semangat kami. Kami melaju menuju tempat pencetakan tiket. Suara mesin pencetak tiket kereta api yang khas itu semakin membuat jantung ini berdetak lebih kencang. “Petualangan ini akan segera dimulai, Lindungi kami Ya, Allah“ Lirih doaku dalam diam.

Kami segera boarding, setelah mempersiapkan diri sebelumnya. Kami sudah siap dengan perannya masing-masing. Tas keperluan pribadi melingkar di bahu kananku. Tangan kiriku memegang erat Si Ade. Sementara suamiku menggendong tas punggung dan satu tas kantung yang berisi bekal. Si Kakak menggendong tas punggung bercorak kucing. Dia juga membawa sekantung keresek berisi jajanan yang dibelinya di gerai makanan sekitar stasiun. Koper yang cukup berat kami serahkan kepada porter yang siaga menunggu penumpang yang membutuhkan jasanya.

“ Ada yang bisa dibantu, Bu? Tanya porter menawarkan jasanya.

“Iya Pak, Kereta Gaya Baru Malam, ya” Pintaku kepada porter seolah memahami apa yang kami maksud.

Kami siap check in. Petugas tiket telah mencocokkan informasi pada tiket dengan kartu identitas. Alhamdulillah, semuanya pas. Kami lolos pemeriksaan. Tampak Kereta Gaya Baru Malam Selatan melambai-lambai menunggu kedatangan kami. Kami pun membalasnya dengan wajah sumringah.

“Pak, tolong antar ke Gerbong Eko-1 16C-17D ya” Pesankku kepada Pak porter.

“ Baik, Bu” jawabnya dengan sigap.

Kami melangkah menyusuri gerbong demi gerbong. Harumnya kereta menyerebak laksana aroma terapi. Entahlah, seperti ada energi yang kuat merasuki tubuh kami. Mataku terus menjelajah sambil sesekali melirik ke tiket yang semenjak tadi ku simpan di tanganku.

“Ah, ini dia, Seat Eko-1 16C-17. Gumamku.

Mataku terbelalak melihat tatanan kursi penumpang kereta api ini. Maklum saja, terakhir kali kami menggunakan kereta api saat mudik 5 tahun yang lalu. Suasana kereta api ini berbeda dari sebelumnya. Kami segera menyusun koper dan barang bawaan lainnya ke atas bagasi kereta. Kemudian duduk manis di seat panjang yang cukup untuk dua orang saja. Seat penumpang ini sedikit lebih ramping dari yang biasanya kami tumpangi dulu.

Pamulang, 30 Juni 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post